Chapter 2
Seperti kisah cinta lainnya, awal-awal jadian begitu menyenangkan, tapi sepertinya yang paling menyenangkan itu ketika pas diterima... :D
Sebelum aku jadian dengan Reni aku sudah aktif di organisasi Senat Kampus Fiksi. Seperti halnya aku jadian dengan Reni di organisasi pun pertama kali rasanya. Aku harus banyak adaptasi, terutama teman-teman baru yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Semuanya menjadi lebih berwarna.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai sibuk dengan urusan organisasi dikampus, banyak kegiatan yang harus aku lakukan. Ada kegiatan Ospek untuk mahasiswa juga urusan organisasi lainnya. Dari sini aku mulai sedikit mengabaikannya, dia mulai sering komplain karena aku kurang perhatian.
Dia pernah bertanya.” Kamu sayang nggak sih sama aku”.
Pikiranku melayang kosong, aku berpikir kembali sayang itu apa, cinta itu apa. Aku hanya takut menyakitinya, membuat dia kecewa, hanya itu yang aku tahu.
Dulu waktu SD pernah guruku bertanya kepada murid-muridnya,”siapa yang paling ganteng di kelas ini”.
“Aguungg, Yadimann, Sugiii, Widodooo...”. Serentak semua siswa menjawab bertautan. Itu nama temanku jaman SD kali ini tanpa sensor. :D
Semua teman SD bagiku lebih ganteng dari aku, karena model rambutnya potongan mandarin belah tengah ala Andy Lau.
Setelah berpikir kebelakang aku melihat diriku, apa yang membuat Reni menerimaku, tidak ada yang istimewa dariku.
Di organisasi aku mulai banyak teman, dan patnerku kebanyakan cewek. Itu yang sering membuat Reni nampaknya cemburu, ditambah lagi omongan temen-temen dia yang ternyata semuanya ga bener tentangku.
Aku ingat Reni pernah bercerita tentang temannya di kelas yang namanya Gundul. Kenapa namanya Gundul karena otaknya yang butuh reboisasi kayak hutan gundul.
Gundul adalah teman sekelas Reni, dia nampaknya dulu pontang panting buat ngedeketin Reni. Mendengar perjuangan si Gundul buat ngedeketin Reni aku jadi terharu juga kasihan. Tapi bodohnya dia, perjuangannya tidak tuntas sampe akhirnya dia jadian dengan teman sekelasnya juga yang namanya Lele.
Saat Reni menunjukkan Gundul padaku... aku memasang Scouter (alat untuk membaca daya tempur di Anime Dragonball). Gundul memang lebih putih (standard dasar ganteng cowok indonesia), badannya lebih berisi dari aku yang ceking. Dia punya motor Sport, lebih gagah dari motorku yang bebek. Semua terlihat lebih baik dari aku, kecuali otaknya.
Setelah melihat Gundul aku sedikit ga nyaman, terlihat dari komennya di facebook Reni yang sok perhatian, cara dia menatapku dengan tajam saat papasan dengannya. Aku merasa dia punya andil dalam semua ini. Astagfirulloh jadi suudzon.
Lama-kelamaan omongan temen-temen Reni kok mulai ngaco, aku jadi mulai ngerasa semuanya ga bener. Aku merasa reni ko malah lebih percaya ama temennya dari pada aku. Tapi aku mencoba mengabaikannya... ya sudahlah yang penting aku dan hatiku yang tetap setia.
Memang aku merasa kurang memberi perhatian buatnya mungkin aku terlalu cuek. Di saat dia membutuhkan aku, aku lebih sering tidak berada disisinya dan bersama teman-temanku.
Suatu ketika karena kesibukanku di organisasi badanku mulai down, akhirnya aku kena cacar air. Luar biasa wajahku yang item mulus dan inocent bentol-bentol berair semua. Hilang sudah rasa percaya diriku, sudah hitam keriting bentol-bentol. Sepertinya semua akan segera selesai.
Kurang lebih dua minggu aku tergeletak karena sakit, demam dan gatal-gatal seluruh tubuh menyiksaku. Rasanya penyakit ini telah jatuh cinta denganku...
Suatu saat yang tak pernah aku duga Reni datang menjenguk aku di rumah... Aku tak percaya dia datang menjengukku, sepertinya aku ingin pakai topeng saja. Tapi rasa sakitku seperti hilang dalam sekejab, aku tidak percaya tapi dia ada dihadapanku.
Aku memandang dalam binar matanya, jernih seperti embun. Senyumnya yang bergetar, rasa haru seperti akan mencairkan dinding es yang membeku. Aku mulai sadar ini cinta yang tak pernah aku bisa menterjemahkannya.
Bibirnya bergetar,” bagaimana keadaanya...”.
Aku tersenyum, aku tak pernah merasa sebaik ini, semuanya terasa lengkap.
Aku tidak tahu jatuh cinta pada pandangan pertama itu seperti apa, cinta pertamaku bagaimana. Aku berjalan berdasarkan rasaku, ketika aku akan mencintai, aku akan memilihmu untuk aku cintai. Walaupun cinta tidak datang begitu saja, tapi aku tahu aku akan mencintaimu dan dirimu yang membangunkan cinta itu lebih baik.
----Fin----



Post a Comment
Post a Comment